Minggu, 14 Oktober 2018

Kebudayaan atau kesenian tentunya takkan pernah lepas dari adanya suatu festival. Dimana festival merupakan salah satu wadah perkumpulan dan evaluasi dalam bidang kesenian ataupun budaya. Festival akan selalu diadakan dalam setiap pekan,sebulan sekali, tahunan ataupun dalam kurun waktu tertentu. Sudah menjadi sebuah kewajaran bahwa sebuah penyelenggaraan festival membutuhkan kriteria yang dapat dijadikan pedoman penilaian bagi festival tersebut. Pada tanggal 14 Oktober 2018 di Gedung Pertunjukan SAWUNGGALING Universitas Negeri Surabaya di Jalan Lidah Wetan Surabaya, Mahasiswa Sendratasik menyelenggarakan acara yang terbilang menarik untuk para peserta didik Sekolah Menegah Atas (SMA) sederajad. Acara tersebut bertujuan menggali potensi generasi muda untuk lebih mencintai Seni Tari Tradisional yang semakin lama semakin terkikis, tetapi juga semakin berkembang dalam penciptaan hasil karya seni tarinya. Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak bermunculan tari-tari tradisional kreasi baru yang diciptakan oleh seniman Seni Tari Tradisional dengan membawakan tema yang berbeda-beda. Perkembangannya pun sangat baik, mulai dari gerakan, musiknya, kostum, make up bahkan penari itu sendiri. Perjalanan yang tak mudah dilakukan oleh para pencinta Seni Tari Tradisional khususnya kelompok penari di SMA Negeri 1 Kedamean “Stixma” yang harus selalu berlatih di dalam kultur mayoritas Agama Islam. Para pejuang Seni Tari Tradisionl Stixma SMA Negeri 1 Kedamean -yang di gawangi oleh siswa-siswa berbakat, diantaranya adalah Fitary Dwi Cahyani, Isnaini Nurkhomariyah, Lailil Rahayu, Azizah Shafira Anggraini, Farizka Suci Handayanik, Fitri Santiya Ayuningsih, yang dibina oleh ibu Wiwik Istiwianah S.Pd, didukung oleh seluruh bapak ibu guru, karyawan serta siswa siswi SMA Negeri 1 Kedamean -untuk kesekian kalinya mengikuti lomba Festival Tari Tradisioanl Pelajar Se-Jawa Timur yang pada akhirnya mendapatkan predikat Juara Terfavorit mengalahkan kontestan dari beberapa daerah di propinsi Jawa Timur. Stixma Seni Tari Tradisional saat itu membawakan tarian dari daerah Sidoarjo yaitu Putri Walang Sangit bersaing ketat dengan kelompok-kelompok penari dari berbagai daerah di Jawa Timur mulai dari daerah Mojokerto, Kediri, Jember, Pasuruhan, Trenggalek, Lumajang, Gresik, dan Surabaya. Dengan kegigihan dan giat berlatih secara teratur, terus menerus, tanpa menghiraukan rasa lelah, serta harus melalui waktu yang tidak singkat untuk meraih juara terfavorit di acara Festival Tari Tradisional Pelajar tingkat SMA/SMK Sederajad se-Jawa Timur di GP SAWUNGGALING UNESA. Stixma Seni Tari Tradisional tidak merasa kecewa tidak dapat merebut piala bergilir dari Rektor UNESA sebab mereka tahu mereka sudah berusaha menunjukkan kemampuan terbaiknya. Mereka yakin, suatu saat mereka dapat meraihnya dengan selalu berlatih penuh semangat dan pantang menyerah.